oleh

Kegagalan Mendidik Sebabkan Tingginya Kekerasan Terhadap Anak

MAKASSAR – Angka kekerasan anak di Indonesia cukup tinggi. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, berpendapat hal itu berawal dari kegagalan mendidik anak.

Dikutip dari laman resmi Kementerian PPPA, Kamis (30/5/2019), pernyataan Yohana tersebut disampaikan saat menghadiri fashion show pada acara amal bertajuk “Share Our Love With Rumah Belajar Miranda”.

Dalam kegiatan itu, Yohana Yembise mengajak seluruh masyarakat, utamanya dunia usaha untuk bersama–sama memberikan pengasuhan dan pendidikan terbaik bagi anak–anak demi menekan angka kekerasan.

“Tingginya angka kekerasan terhadap anak kita yang dibuktikan dengan hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2018 berawal dari gagalnya pengasuhan dan pendidikan yang diberikan kepada anak–anak kita,” jelas Yohana.

Hal ini kata dia, mengakibatkan anak-anak akan rentan mengalami berbagai tindak kekerasan, dan bukan tidak mungkin menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

“Selain itu, mengingat banyak kekerasan dilakukan oleh teman sebayanya sendiri, pendidikan pada anak untuk tidak melakukan kekerasan juga harus terus menerus kita lakukan dan merupakan tugas dan kewajiban kita bersama,” tegas Menteri Yohana.

SNPHAR 2018, yang menunjukkan bahwa 3 dari anak 5 anak perempuan dan 1 dari 2 anak laki-laki mengalami kekerasan emosional.

Sementara untuk kekerasan fisik terjadi pada 1 dari 3 anak laki-laki dan 1 dari 5 anak perempuan. Salah satu temuan dari survei tersebut adalah pelaku kekerasan banyak dilakukan oleh temannya sendiri.

Menteri Yohana juga mengajak berbagai pihak, utamanya dunia usaha untuk melakukan berbagai upaya perlindungan dan pemenuhan anak melalui berbagai kegiatan sosial seperti yang dilakukan Rumah Belajar Miranda.

“Saya mengajak seluruh dunia usaha agar bersama-sama melakukan kegiatan sosial. Kita masih banyak menghadapi berbagai tantangan terutama dalam upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak di seluruh Indonesia,” paparnya.

Komentar