oleh

Menuju ke Udik (Mudik) Menjemput Maaf

 

“Mudik lebaran itu tak sekadar berlibur ke kampung halaman. Mudik itu pulang dalam makna yang dalam. Ada banyak keajaiban bisa datang darinya. Bagaimana bisa?”

 

https://m.vidio.com/watch/76835-dik-doank-pulang

Menuju ke udik, alias mudik lebaran itu pulang. Tidak sekadar pulang ke kampung halaman, meski itu lokasi yang dituju.

Ada memori dari masa lalu. Ada nilai dari tempat asal. Ada pula cerita bersama sekelompok orang yang mengenal diri kita sejak sama-sama belum disesaki embel-embel.

Seorang kawan, dikutip dari kompas.com, dalam salah satu perjalanan mudik beberapa tahun silam, menyebut, “Mudik adalah menziarahi perjalanan diri sendiri hingga sampai ke titik pencapaian saat ini.”

Berat ya?

Dipikir-pikir, bisa jadi memang begitu. Bukankah mudik itu misterius kalau dicermati?

Sudah tiket mahal kalau naik transportasi umum, berjejalan, banyak pengeluaran untuk oleh-oleh atau berbagi rezeki dengan kerabat di kampung, macet juga bagi yang mengendarai kendaraan pribadi. Capek, sudah tentu.

Di sini, akan mengorek ringkas asal-muasal tradisi mudik yang lekat dengan Idul Fitri di Indonesia. Namun, mudik juga tidak cuma soal sejarah, kerepotan, dan hal-hal material.

Bahkan, mudik tahun ini bisa jadi punya posisi strategis. Setelah sekian waktu anak bangsa tampak “terbelah” oleh kontestasi politik praktis, mudik adalah momentum untuk menguji bersama arti kita bersaudara di Bumi Indonesia.

Lalu, karena lekat pula dengan Idul Fitri, mudik juga punya dimensi bernama “kata maaf”. Seperti apakah kekuatannya bila bukan semata ucapan hapalan di bibir? Ada keajaiban menanti dari kekuatan maaf.

Riwayat

Dosen sejarah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengatakan, tradisi mudik lebaran ditengarai sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam.

“Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam,” kata Silverio.

Kala itu, kekuasaan kerajaan Majapahit sudah sampai ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Oleh karena itu, pihak kerajaan Majapahit menempatkan pejabatnya ke berbagai wilayah untuk menjadi pemimpin setempat.

Komentar