oleh

Pengerajin Genteng Tanah Liat yang Tetap Menggeliat

HAWA panas memancar dari tungku berukuran sekitar 2,5×2,5 meter, dengan tinggi sekitar 4 meter. Aroma khas kayu yang terbakar menyeruak memasuki rongga penciuman, berpadu dengan asap tipis dari pembakaran.

Tungku itu merupakan tempat pembakaran genteng tanah liat. Beberapa puluh sentimeter dari tungku itu, seorang pria berusia sekitar 60 tahun dengan telaten menjaga agar api kayu bakar terus menyala.

Jemari keriput Hartono, pria tua itu, masih terlihat kekar. Dia menggenggam kayu-kayu yang akan ditambahkan ke dalam api. Kulitnya yang berwarna gelap, tampak mengkilat tertimpa sinar matahari sore.

Tungku pembakaran genteng tanah liat. Foto: Sinarkata

Sesekali Hartono menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, sambil terus memperhatikan nyala api dalam tungku.

Proses pembakaran genteng tersebut menurut dia, bisa berlangsung hingga 12 jam. Satu kali membakar genteng, dibutuhkan sekitar 5 mobil pikap kayu bakar.

“Sekali membakar membutuhkan lima mobil kayu. Nilainya sekitar Rp4 juta untuk satu kali bakar,” jelasnya menggunakan bahasa Jawa halus, Selasa (11/6/2019).

Kampung itu, Sido Agung, Godean, Kabupaten Sleman, merupakan sentra pengerajin genteng tanah liat. Terdapat belasan bahkan mungkin puluhan pengerajin genteng di situ. Tapi sore itu, hanya Hartono yang terlihat sedang membakar genteng.

Meski sibuk dengan pembakarannya, Hartono masih berkenan menjelaskan sekaligus mempraktekkan proses pembuatan genteng. Mulai dari pressing atau pencetakan tanah liat, hingga proses akhir, yakni pembakaran.

“Sebetulnya kalau mau lihat prosesnya, harus datang pagi-pagi, sekitar jam sembilan. Kalau sore begini, karyawan sudah pada pulang,” ucapnya, masih dengan bahasa Jawa, sambil berjalan ke bagian dalam halaman rumahnya, untuk menunjukkan cara pembuatan.

Hartono lalu mengambil satu bagian tanah liat yang sudah berbentuk kotak. Kemudian tanah liat itu dipukulnya dengan besi pipih, agar bentuknya menjadi gepeng.

Setelah pipih, sebelum diletakkan dalam mesin press, tanah liat itu diolesi dengan minyak, agar lebih mudah dibentuk.

Hanya beberapa detik kemudian, tangan kekarnya sudah memutar mesin press searah jarum jam. Kemudian dia memutar kembali putaran pada mesin press, dan mengulangi pengepresan sebanyak beberapa kali.

“Harus diulang beberapa kali, supaya lebih padat dan hasilnya bagus,” tuturnya.

Komentar