oleh

Perdagangan Wanita dan Anak Masih Tinggi, Angkanya Mencapai 70%

GOWA – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpan PPPA) mencatat dua per tiga atau 70 persen korban perdagangan manusia tahun 2018 adalah perempuan dan anak.

Melihat hal tersebut, Dosen Kesetaraan Gender asal Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Rahmawati Latif, menyayangkan hal tersebut, pasalnya angka tersebut terbilang masih tinggi

Menurutnya, penyebab terjadinya perdagangan perempuan dan anak perempuan karena tiga hal, yaitu: rendahnya pengetahuan perempuan khususnya bidang pendidikan, pemahaman agama yang kurang, dan budaya yang masih mengakar di masyarakat terkait peran.

Karenanya, ia pun menilai, regulasi pemerintah belum ketat terkait persoalan perdagangan perempuan dan anak perempuan. “Terutama di daerah perbatasan dan daerah terluar belum diawasi dengan baik,” kata Rahmawati.

Sehingga, pemerintah melalui PPPA perlu melakukan program-program yang lebih nyata dan tepat sasaran, yang harus dilaksanakan secara efektif.

“Kemudian adanya komunitas perempuan seperti LSM bidang trafficking harus berperan serta melalui program advokasi dan edukasi, akademisi atau ilmuwan yang bergerak dibidang gender juga harus banyak menyuarakan hasil riset dan tulisan tentang perdagangan perempuan dan anak serta solusinya,” jelasnya

Rahmawati juga merasa perempuan perlu memiliki kesadaran bahwa mereka manusia independen dan bahwa dirinya bukan mahluk lemah atau second class, hal tersebut untuk membantu dirinya

“Jadi perempuan harus sekolah untuk meningkatkan kapasitas dirinya, jika pun tidak bisa sekolah. Maka dia harus terdidik atau berilmu melalui apa yang dipelajari di masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Nursinta/A

Komentar